Let’s travel together.

Serba-Serbi Kanker Serviks, dari Penyebab hingga Pengobatannya

0 1

Serba-Serbi Kanker Serviks, dari Penyebab hingga PengobatannyaKanker dengan berbagai jenisnya, tidak terkecuali kanker serviks, termasuk satu dari penyebab kematian utama di seluruh dunia. Di negara kita sendiri, kanker yang menyerang serviks atau leher rahim ini merupakan jenis penyakit kanker dengan prevalensi tertinggi di tahun 2013, baru kemudian disusul oleh kanker payudara. Tiga provinsi di Indonesia yang memiliki prevalensi kanker leher rahim tertinggi secara berturut-turut adalah Kepulauan Riau, Maluku Utara, dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Masih segar dalam ingatan kita bagaimana kanker leher rahim merenggut jiwa seorang Julia Perez, public figure tanah air kita pada bulan Juli silam. Beliau bukan yang pertama, dan jelas bukan yang terakhir. Jumlah kasus baru dan jumlah kematian akibat kanker leher rahim masih terus meningkat sampai detik ini.

Ada Beberapa Jenis Kanker Serviks yang Perlu Kita Ketahui

Serviks atau leher rahim terdiri dari dua bagian, dan masing-masing bagian dilapisi oleh jenis sel yang berbeda. Bagian dari serviks yang paling dekat dengan rahim dinamakan endoserviks, dan dilapisi oleh sel-sel glandula. Sedangkan bagian dari serviks yang berbatasan dengan jalan lahir atau vagina disebut dengan eksoserviks, dan dilapisi oleh sel-sel skuamosa.

Sel-sel kanker maupun pre-kanker dikategorikan berdasarkan bagaimana mereka terlihat di bawah lensa mikroskop. Jenis kanker serviks yang paling banyak dijumpai adalah squamous cell carcinoma, bisa dikatakan 9 dari 10 kasus kanker leher rahim adalah squamous cell carcinoma. Jenis kanker ini berkembang dari sel-sel pada eksoserviks, dan biasanya mulai berkembang di bagian serviks yang merupakan tempat pertemuan antara eksoserviks dan endoserviks.

Jenis kanker leher rahim lainnya yang lebih jarang dijumpai adalah adenocarcinoma yang berkembang dari sel-sel kelenjar. Adenocarcinoma pada kanker leher rahim berkembang dari sel-sel kelenjar pada endoserviks yang memproduksi lendir. Meskipun relatif jarang, namun kasus adenocarcinoma pada kanker leher rahim menjadi lebih umum dijumpai dalam kurun waktu 20 hingga 30 tahun belakangan ini.

Mengenal Penyebab dan Gejala Kanker Serviks: Wanita Harus Tahu!

Kanker dimulai ketika sel-sel pada tubuh kita tumbuh tak terkontrol, di luar batas. Sel-sel tubuh, dimanapun sel-sel tersebut berada, dapat berkembang menjadi kanker dan dapat pula menyebar ke bagian tubuh lainnya. Kanker leher rahim terjadi apabila sel-sel pada dinding serviks atau leher rahim wanita (serviks atau leher rahim adalah bagian bawah dari rahim yang membuka ke arah jalan lahir atau vagina) mengalami pertumbuhan yang abnormal.

Sel-sel pada dinding serviks tersebut tidak secara mendadak berubah menjadi sel kanker. Sel-sel normal tersebut pertama-tama berubah menjadi sel pre-kanker terlebih dahulu, baru kemudian berkembang menjadi kanker. Pada sebagian besar wanita sel pre-kanker dapat menghilang dengan sendirinya tanpa pengobatan, namun juga ada yang tetap berkembang menjadi kanker. Biasanya butuh waktu beberapa tahun bagi sel pre-kanker untuk benar-benar berkembang menjadi kanker, namun ada pula kasus dimana perubahan sel pre-kanker menjadi kanker berlangsung dalam waktu kurang dari satu tahun.

Sebagian besar kanker serviks disebabkan oleh virus yang disebut human papillomavirus atau HPV. Seseorang dapat terjangkit HPV melalui hubungan seksual (baik vaginal, anal, maupun oral) dengan orang yang telah memiliki virus ini dalam tubuhnya.

Ada banyak jenis virus HPV dimana tidak semuanya menyebabkan kanker. Salah satu jenis virus HPV ada yang menyebabkan kutil kelamin, yakni penyakit menular seksual yang ditandai dengan munculnya benjolan-benjolan daging berukuran kecil di sekitar organ kelamin dan dubur. Berbeda dengan kanker leher rahim, kutil kelamin tidak menyebabkan rasa nyeri dan tidak membahayakan jiwa penderitanya.

Selain virus HPV yang menjadi kemungkinan terbesar penyebab kanker leher rahim, terdapat beberapa faktor resiko yang berkaitan dengan kanker leher rahim. Memiliki satu atau lebih faktor resiko bukan berarti seseorang pasti akan terkena kanker leher rahim, namun resiko ia menderita penyakit ini lebih besar daripada mereka yang tidak memiliki faktor resiko.

Faktor-faktor resiko tersebut antara lain merokok, memiliki gangguan sistem imun, pernah terjangkit infeksi klamidia, diet minim sayur dan buah-buahan, kelebihan berat badan, menggunakan alat kontrasepsi oral (pil KB) jangka panjang, berusia kurang dari 17 tahun saat mengandung anak pertama, dan memiliki riwayat anggota keluarga dengan kanker leher rahim.

Memahami tanda dan gejala kanker serviks sangat penting karena umumnya kaum wanita abai terhadap perubahan yang terjadi pada tubuhnya. Sehingga, yang terjadi adalah mereka baru memeriksakan diri ketika sudah terdiagnosa pada stadium akhir. Hal ini tentu dapat dicegah dengan mengetahui apa saja tanda dan gejala kanker leher rahim ini. Gejala pertama yang paling jelas adalah adanya pendarahan dari vagina yang bukan akibat menstruasi (seperti misalnya pada waktu di antara periode menstruasi, setelah melakukan hubungan intim, atau setelah seorang wanita sudah memasuki masa menopause).

Selain itu, gejala lainnya meliputi nyeri pada panggul atau perut bawah, nyeri ketika melakukan hubungan intim, dan keputihan yang tidak biasa. Keputihan normal umumnya jernih dan tidak berbau. Apabila Anda mengalami keputihan berwarna merah muda dan berbau busuk, curigalah bahwa Anda menderita kanker leher rahim dan segera periksakan diri Anda ke fasilitas kesehatan terdekat.

Keluar darah dari vagina, nyeri perut atau panggul, dan nyeri saat hubungan intim bisa saja ternyata tidak disebabkan oleh kanker, melainkan kondisi lain seperti infeksi. Meski demikian, apabila Anda mengalami hal-hal tersebut, segera periksakan diri Anda ke fasilitas kesehatan terdekat. Mungkin Anda sedang mengalami infeksi yang tidak serius, namun bisa saja Anda memang benar-benar menderita kanker. Mengabaikan tanda dan gejala yang timbul akan memberi kesempatan pada sel-sel kanker untuk makin berkembang dan menurunkan kesempatan Anda untuk mendapatkan terapi yang efektif.

Pada tahap awal, sebagian besar kanker serviks tidak menimbulkan gejala, namun bahkan pada tahap awal jenis kanker ini dapat dideteksi. Bagaimana cara mendeteksinya? Dengan menggunakan tes sederhana yang disebut dengan papsmear test, yakni mengambil contoh dari sel-sel di leher rahim untuk diperiksa di bawah mikroskop; untuk mengetahui apakah ada kemungkinan sel-sel tersebut berubah menjadi abnormal atau ganas di masa yang akan datang.

Berapa Tingkat Kesembuhan Penyakit Kanker Serviks

Ini adalah pertanyaan yang mungkin pertama kali diajukan begitu seorang wanita terdiagnosa menderita kanker leher rahim. Ya, terdapat beberapa pilihan terapi untuk penderita kanker leher rahim yang sangat tergantung pada stadium kanker yang tengah diderita. Stadium kanker menunjukkan ukuran kanker tersebut, seberapa dalam kanker tersebut tumbuh ke dalam serviks, dan apakah kanker sudah menyebar ke sel-sel di sekelilingnya.

Setelah menentukan stadium kanker serviks yang diderita, dokter akan menjelaskan beberapa pilihan terapi pada pasiennya dengan harapan pasien kanker memikirkan secara seksama pilihan terapi yang akan diambilnya. Pilihan terapi yang umum meliputi kemoterapi, radiasi, dan operasi (baik pengangkatan rahim total maupun pengambilan nodus limfa dengan atau tanpa pengangkatan ovarium atau tuba falopi).

Pengangkatan leher rahim artinya seorang penderita kanker leher rahim tidak dapat memiliki anak nantinya (karena rahim adalah tempat bertumbuhnya janin sebelum dilahirkan ke dunia). Namun, penderita kanker leher rahim tidak selalu menjalani pengangkatan rahim, terutama apabila kanker terdeteksi di stadium awal.

Pasien kanker juga dianjurkan untuk mengajukan pertanyaan sebanyak mungkin apabila ada hal-hal yang tidak dimengerti, baik terkait terapi maupun seluk beluk kanker itu sendiri. Faktor lain yang mungkin akan mempengaruhi pilihan terapi antara lain umur dan kondisi kesehatan pasien secara keseluruhan. Kanker serviks dapat mempengaruhi kehidupan seksual penderitanya dan juga mempengaruhi kemampuannya untuk memiliki anak. Hal-hal ini juga harus dipertimbangkan dalam memilih terapi yang tepat.

Mempertimbangkan Terapi Komplementer Maupun Alternatif

Anda mungkin pernah mendengar tentang terapi komplementer maupun alternatif yang ditawarkan oleh orang-orang di sekitar Anda, dimana terapi-terapi tersebut tidak disebutkan oleh dokter dalam mengobati kanker Anda maupun meredakan tanda dan gejala. Terapi-terapi tersebut dapat mencakup vitamin, obat herbal, diet tertentu, pijat, akupunktur, dan masih banyak lagi metode lainnya.

Terapi komplementer merujuk pada metode yang digunakan sejalan dengan metode pengobatan konvensional (secara klinis), sedangkan terapi alternatif adalah istilah yang digunakan pada metode pengobatan yang digunakan untuk seluruhnya menggantikan metode pengobatan konvensional. Ini berlaku tidak hanya pada kasus kanker serviks, namun nyaris pada seluruh penyakit dimana terapi alternatif bertindak sebagai “terapi dewa” yang dapat menyembuhkan semuanya.

Indonesia adalah tempat bertumbuh suburnya terapi alternatif yang banyak mengklaim dirinya mampu mengobati segala jenis penyakit. Terdiagnosa kanker leher rahim pastinya mengguncang psikis seorang wanita. Dalam kekalutannya, apalagi jika ditambah dengan pengetahuan tentang penyakit ini yang kurang adekuat, dan diperparah dengan “ketakutan” menjalani prosedur-prosedur medis, membuat seseorang lebih menempuh terapi alternatif.

Beberapa jenis terapi mungkin membuat penderita kanker merasa lebih baik, namun seringnya hal tersebut berhubungan dengan faktor sugesti. Lebih banyak lagi terapi alternatif yang telah terbukti tidak efektif dalam mengobati kanker serviks, beberapa di antaranya bahkan berbahaya dan memperburuk kondisi penderitanya. Apabila Anda saat ini tengah menderita kanker, pastikan untuk selalu mengkomunikasikan dengan tenaga kesehatan yang menangani Anda tentang terapi komplementer maupun alternatif yang Anda jalani.

Bagaimana Cara Melindungi Diri dari Kanker Ini?

Kanker serviks dapat dicegah. Jika Anda berusia 26 tahun atau lebih muda, Anda dapat memperoleh imunisasi HPV, yang akan melindungi Anda dari jenis virus HPV yang menyebabkan kanker leher rahim. Apabila Anda telah berusia di atas 26 tahun, belum menikah, dan menghendaki mendapatkan imunisasi HPV, Anda masih dapat memperoleh imunisasi HPV ini. Apabila Anda telah menikah, Andapun masih dapat diimunisasi. Ada pendapat yang mengatakan bahwa efektivitas vaksin HPV akan menurun pada individu yang telah menikah, namun masih lebih baik daripada tidak sama sekali.

Pada bulan Oktober 2016 silam, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia telah menerapkan pemberian vaksin HPV di Provinsi DKI Jakarta pada anak kelas 5 dan 6 Sekolah Dasar. Hal ini berdasarkan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa usia optimal untuk menerima imunisasi HPV adalah antara 9 hingga 13 tahun.

Nantinya program pemberian vaksin HPV ini akan dilanjutkan di Provinsi DI Yogyakarta di dua kabupaten yaitu Gunung Kidul dan Kulonprogo, untuk selanjutnya diterapkan di seluruh daerah di Indonesia. Berita ini tentu harus disambut dengan gembira karena di negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan negara-negara Skandinavia pemerintah telah terlebih dahulu menggratiskan vaksin HPV ini.

Virus yang menyebabkan kanker serviks menyebar melalui hubungan seksual, baik per vaginal, anal, maupun oral. Cara yang paling baik untuk menghindari penyakit menular seksual (tidak hanya kanker leher rahim namun penyakit menular seksual apapun) adalah dengan tidak berhubungan seksual. Jika Anda melakukan hubungan seksual, pastikan untuk menggunakan kondom dan setialah hanya dengan satu pasangan. Demikian artikel ini ditulis, semoga bermanfaat bagi kita semua.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

71 − 63 =