Let’s travel together.

Risiko Stroke Akibat Gigitan Binatang

0 2

Gigitan binatang merupakan penyebab tidak biasa pada stroke. Di beberapa wilayah berdasarkan letak geografis dan iklim, berbagai makhluk beracun dapat berkembang dan menimbulkan ancaman nyata bagi manusia di sekitarnya.

Gigitan dari beberapa jenis ular, laba-laba dan kalajengking dapat menyebabkan perubahan fisiologis dalam tubuh yang mengakibatkan gangguan neurologis dan stroke. Jenis racun tertentu yang dipancarkan dari gigitan atau sengatan hewan memiliki sifat kimia yang mengganggu fungsi pembekuan darah, mengakibatkan perdarahan yang berlebihan, merangsang pelepasan hormon dan mengubah pembuluh darah yang nantinya mengarah pada stroke. Stroke yang diakibatkan oleh gigitan dan sengatan binatang yang tiba-tiba dan mungkin bisa parah karena lonjakan racun yang tiba-tiba dilepaskan ke tubuh korban.

Gigitan ular

Ada banyak laporan kasus gigitan ular yang mengakibatkan stroke. Seekor ular viper, yang dapat ditemukan di banyak lokasi di seluruh dunia, telah berulang kali diidentifikasi sebagai sumber stroke pada manusia.

Racun yang dikeluarkan saat gigitan ke dalam sirkulasi korban mengandung sejumlah racun yang menghasilkan interaksi kompleks dengan tubuh manusia. Pengaruh dari racun termasuk perdarahan berlebih, yang memicu perdarahan dalam banyak organ tubuh korban yang terluka. Terkadang, racun pada bisa ular menyebabkan pengaruh yang berlawanan, berdampak pada penggumpalan darah di otak atau struktur tubuh lainnya. Ular beracun lainnya, seperti ular derik, memasukkan racun ke dalam sistem korban yang terluka, kemudian menyebabkan kombinasi perdarahan dan penggumpalan darah di seluruh tubuh. Protein seperti metalloproteinase, protease serin dan jenis C- lektin, yang ditemukan dalam racun ular, memiliki aktivitas antikoagulan dan pro-koagulasi.

Pengobatan yang efektif termasuk anti-racun serta pemeriksaan dan perawatan medis yang mendesak, termasuk pernapasan, jantung dan ginjal. Kegagalan dalam pengobatan yang efektif telah dilaporkan dalam kasus-kasus ketika ada keterlambatan dalam mengidentifikasi jenis reptil dan pemberian anti-racun.

Gigitan laba-laba

Gigitan laba-laba berhubungan dengan kelumpuhan otot akibat tindakan langsung dari neurotoksin pada saraf dan transmisi otot. Kelumpuhan otot dapat menargetkan salah satu otot pada tubuh, termasuk otot-otot yang mendukung fungsi-fungsi vital seperti pernapasan dan kontraksi jantung. Namun, racun laba-laba juga dapat menyebabkan gangguan koagulasi parah, yang mengakibatkan stroke. Penggumpalan darah yang disebabkan oleh gigitan laba-laba beracun dapat menyebabkan stroke di setiap bagian otak, dan dapat menyebabkan lebih dari satu stroke pada suatu waktu. Serupa dengan penanganan medis untuk gigitan ular berbisa, perawatan medis dari pasien yang menderita stroke akibat gigitan laba-laba beracun harus mencakup penanganan cepat dan waspada akan gejala stroke ditambah dengan suntikan pengobatan anti-racun.

Sengatan kalajengking

Sengatan beberapa jenis kalajengking dapat menyebabkan sejumlah konsekuensi serius yang mengancam kehidupan, termasuk penyimpangan detak jantung, kelumpuhan otot dan gangguan pernapasan. Kelainan parah fungsi jantung dan tekanan darah dapat memicu satu atau lebih stroke hemoragik. Selain itu, racun kalajengking dapat secara langsung mengganggu proses normal yang mengatur perdarahan dan pembekuan darah, menyebabkan hemoragik atau stroke iskemik pada otak. Sengatan kalajengking menginduksi aktivitas berlebih dari katekolamin, yang merupakan hormon perangsang. Selama aktivitas katekolamin dapat menginduksi stroke karena perubahan ekstrim pada diameter pembuluh darah, kejang pembuluh darah otak, dan reaksi detak jantung yang abnormal.

Apa yang harus saya lakukan?

Gigitan hewan dapat berbahaya bagi korban. Perawatan medis yang mendesak selalu diperlukan, karena gejala yang mengancam kehidupan dapat berkembang dengan cepat. Spesies hewan asli bervariasi tergantung pada lingkungan lokal dan iklim. Perawatan medis yang sistematik sering diperlukan untuk melawan efek fisiologis pada komponen berbahaya dari racun. Sering kali, pemberian anti-racun diperlukan untuk menghentikkan racun yang disuntikkan melalui gigitan atau sengatan.

Sumber

Aissaoui, Y., Hammi, S., Chkoura, K., Ennafaa, I., & Boughalem, M. (2013). [Association of ischemic and hemorrhagic cerebral stroke due to severe envenomation by the Sahara horned viper (Cerastes cerastes)]. Bulletin de la Societe de pathologie exotique (1990)106(3), 163-166.

Garcia, H., Tanowitz, H., & Del Brutto, O. (2013). Neurological effects of venomous bites and stings: snakes, spiders, and scorpions. Neuroparasitology and Tropical Neurology: Handbook of Clinical Neurology Series (Editors: Aminoff, Boller, Swaab)114, 349-68.

Del Brutto, O. H., & Del Brutto, V. J. (2012). Neurological complications of venomous snake bites: a review. Acta Neurologica Scandinavica125(6), 363-372.

Vale, T. C., Leite, A. F., Hora, P. R. D., Coury, M. I. F., Silva, R. C. D., & Teixeira, A. L. (2013). Bilateral posterior circulation stroke secondary to a crotalid envenomation: case report. Revista da Sociedade Brasileira de Medicina Tropical46(2), 255-256.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

7 + 2 =