Let’s travel together.

Proses Wanita Melahirkan dalam Air Ternyata Seperti Ini!

0 3

Proses bersalin baik normal maupun melalui operasi masih mendominasi di Indonesia, sehingga jika membicarakan proses wanita melahirkan dalam air, masih akan banyak ditemui masyarakat yang belum mengetahui bahkan mendengarnya. Biaya melahirkan dalam air yang masih cukup tinggi, diperlukannya peralatan sekaligus SDM yang cakap dan terlatih, munculnya pro dan kontra, serta belum ada rekomendasi resmi dari dokter kandungan Indonesia merupakan beberapa sebab masih belum familiarnya proses bersalin dalam air di Indonesia. Meski demikian, pembahasan terkait proses wanita melahirkan dalam air ini tentu akan tetap menarik untuk diikuti.

Di beberapa negara lain, proses melahirkan dalam air ini sudah lama digalakkan. Tahun 1803 adalah kali pertama proses bersalin dalam air ini diperkenalkan, tepatnya di Perancis. Penelitian terfokus terkait kelahiran dalam air ini dimulai secara konsisten sejak 1970-an. Saat itu petugas medis (dokter dan bidan) di Perancis dan Rusia mulai mendalami cara untuk membantu bayi lahir agar bisa beralih secara aman dari kehidupan kandungan ke kehidupan luar.

Sebelum berbicara lebih lanjut tentang proses wanita melahirkan dalam air, sebaiknya kita pahami dahulu definisi jelasnya. Jadi persalinan dalam air diartikan sebagai proses persalinan yang berlangsung dalam air hangat dengan suhu sekitar 36-370 celcius. Air hangat digunakan karena menjadikan vagina elastis sehingga proses persalinan lebih mudah dan cepat. Selain itu, air hangat juga mampu menghambat impuls-impuls saraf yang mengantarkan rasa sakit sehingga ibu lebih nyaman dan tenang selama proses bersalin.

Air dirasakan mampu menjadi media yang cukup pas untuk bersalin. Daya tahan air yang dapat menopang ibu bisa membuat ibu bergerak lebih ringan. Bayi juga tidak akan telalu kaget saat dilahirkan karena sebelumnya sudah terbiasa dengan air ketuban saat dalam kandungan. Air hangat juga mampu membuat sirkulasi darah di daerah uterus berjalan dengan baik.

Memahami Proses Wanita Melahirkan dalam Air

Sebenarnya tidak ada perbedaan khusus terkait proses wanita melahirkan dalam air dengan cara normal biasanya. Hanya saja media yang digunakan sedikit berbeda, yakni menggunakan air. Sejauh ini, dikenal dua macam proses bersalin dalam air, yaitu:

1. Proses bersalin dalam air secara murni (water birth murni)

Proses bersalin dalam air secara murni yakni seluruh proses bersalin mulai dari proses pembukaan hingga keluarnya bayi berlangsung di dalam air.

2. Proses water birth emulsion

Water birth emulsion adalah proses bersalin dalam air selama proses pembukaan saja. Jadi ibu berada dalam air hingga pada fase pembukaan lengkap saja. Setelah pembukaan lengkap, ibu melahirkan secara normal (tidak di dalam air).

Pada proses water birth murni, ibu mulai masuk dalam bak yang sudah dilakukan sterilisasi sebelumnya dan diatur suhu airnya ketika sudah mencapai fase pembukaan enam. Bak yang digunakan (birth pool) kira-kira berukuran 1,6 x 1,2 atau 2 meter dengan alas yang didesain khusus sehingga posisi ibu lebih nyaman. Volume air yang terisi dalam bak kurang lebih setinggi bawah pusar ibu.

Selain birth pool, tak lupa pula tersedia pompa khusus yang mengatur sirkulasi air. Ada juga water heater untuk menjaga suhu air agar stabil pada angka 36-370 celcius. Suhu air memang diupayakan stabil pada angka tersebut agar bayi tidak terlalu kaget dengan perbedaan suhu antara di dalam kandungan dan di luar kandungan. Hal ini juga penting untuk mencegah kejadian hipotermi (suhu tubuh turun secara berlebih) maupun hipertermi (suhu tubuh naik secara berlebih) pada bayi.

Ketika pembukaan telah lengkap, maka ibu dengan posisi masih di dalam air akan dipimpin untuk mengejan hingga bayi keluar. Air hangat menjadikan proses bersalin menjadi lebih cepat dan mudah sehingga ibu tidak perlu melakukan proses mengejan terlalu kuat.

Biasanya proses ini memakan waktu antara 1-2 jam. Setelah bayi keluar, penolong persalinan entah dokter atau pun bidan akan mengangkat bayi ke permukaan dan langsung diberikan pada ibu untuk dilakukan inisisasi menyusu dini (IMD). Bila proses pengeluaran bayi berlangsung lancar, kemaluan bahkan tak perlu dijahit.

Pada proses waterbirth emulsion, setelah ibu mencapai fase pembukaan lengkap, maka akan berpindah dari birth pool ke bed persalinan biasa. Langkah selanjutnya seperti pada persalinan umum, yakni ibu dipimpin mengejan hingga bayi lahir. Lalu dilakukan manajemen pengeluaran plasenta seperti biasa.

Manfaat Proses Melahirkan dalam Air

Meski pelaksanaan proses melahirkan dalam air hingga kini masih menyisakan pro dan kontra, namun beberapa pakar kandungan menyampaikan beberapa manfaat dari proses bersalin ini yakni:

  • Ibu akan jauh merasa lebih rileks dan santai mengahadapi persalinan. Otot-otot yang bekerja selama persalinan akan menjadi rileks ketika bersentuhan dengan air hangat.
  • Memudahkan ibu dalam proses mengejan sehingga rasa nyeri selama persalinan akan dirasakan jauh berkurang.
  • Media air hangat yang digunakan dapat mempercepat proses pembukaan jalan lahir.
  • Meminimalisir cedera yang dialami bayi ketika proses bersalin berlangsung.
  • Mengurangi resiko robeknya jalan lahir.
  • Rasa rileks yang dirasakan ibu saat kontak dengan air hangat memicu hormon alami yang bertugas untuk merangsang persalinan (oksitosin dan endorfin) meningkat.
  • Peredaran darah pada bayi lebih baik sehingga tubuh akan cepat memerah setelah dilahirkan.

Resiko Persalinan dalam Air yang Tidak Boleh Dianggap Remeh

Proses bersalin dalam air ini pun juga memiliki resiko. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait persalinan dalam air ini. Beberapa fakta di lapangan menyebutkan beberapa kejadian terkait proses wanita melahirkan dalam air, di antaranya:

  • Rentan terjadi infeksi – persalinan dalam air memiliki celah penyebaran infeksi yang cukup tinggi. Lalainya petugas medis dalam mengondisikan medium yang steril sangat berpotensi membuka peluang infeksi.
  • Gangguan suhu – bayi maupun ibu yang terlalu lama kontak dengan air sangat berpotensi untuk mengalami hipotermi (penurunan suhu drastis).
  • Pneumonia – kejadian pneumonia atau radang paru harus diwaspadai kemunculannya. Penyebabnya bisa karena tercemarnya air dengan mekonium atau pun tinja.
  • Terbatas dalam manuver – penolong persalinan terkendala untuk melakukan manuver segera saat ada kejadian darurat, misalnya lilitan tali pusat.

Syarat untuk Melakukan Persalinan dalam Air

Proses bersalin dalam air ini tidak bisa diperuntukkan bagi semua ibu hamil. Ada beberapa kondisi ibu dan bayi yang perlu untuk dipebuhi, di antaranya:

  • Ibu maupun bayi dalam kondisi normal, tidak memiliki suatu jenis infeksi apapun yang berpotensi menular.
  • Posisi bayi tunggal dalam rahim pada kondisi normal (kepala di bawah, tidak sungsang, tidak kembar)
  • Sebelum masuk dalam air, kondisi ketuban masih utuh, belum pecah.
  • Ibu tidak mengalami preeklampsia (tekanan darah tinggi)
  • Usia kehamilan matang, bukan kelahiran prematur.

Selain beberapa hal yang sudah disebutkan di atas, masih ada banyak pertimbangan lain yang perlu diperhatikan sebelum memutuskan untuk memilih proses wanita melahirkan dalam air ini. Berkonsultasi dengan dokter kandungan adalah alternatif terbaik yang bisa dilakukan.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

22 − = 14