Let’s travel together.

Ibu Melahirkan di Air, Apa Manfaat dan Resikonya?

0 1

Ibu Melahirkan di Air, Apa Manfaat dan Resikonya?Di awal tahun 2017, kabar bahagia datang dari Andien, penyanyi jazz cantik Indonesia yang melahirkan anak pertamanya yang berjenis kelamin laki-laki, yang uniknya Andien memilih metode ibu melahirkan di air. Hal ini tentu saja memantik rasa ingin tahu dari masyarakat luas, apa sebenarnya metode melahirkan di air? Mengapa seorang ibu memutuskan untuk melahirkan di air? Apa kelebihan dan resikonya? Artikel ini akan mengupas mengenai metode melahirkan di air, lengkap mulai dari sejarah munculnya metode ini, kelebihan, resiko, hingga apa saja yang harus dipersiapkan bila Anda adalah ibu hamil yang juga ingin mencoba melahirkan di air. Selamat membaca!

Sejarah Ibu Melahirkan di Air: Ternyata Metode Ini Sudah Ada Sejak Dulu

Selama ini kita berpikir bahwa melahirkan di air adalah metode yang baru dikenal akhir-akhir ini saja, yang dipopulerkan oleh para artis atau kaum elite. Namun ternyata, menurut seorang penulis sekaligus pendiri Active Birth Movement di Inggris yang bernama Janet Balaskas, metode melahirkan di air ini telah dikenal jauh sebelumnya.

Balaskas menceritakan sebuah legenda dari para penghuni pulau Pasifik Selatan yang melahirkan bayi di laut dangkal, dan para penguasa negeri Mesir yang lahir di air. Bahkan hingga hari ini, di beberapa tempat di dunia seperti di Guyana (Amerika Selatan), banyak wanita yang melahirkan bayi di titik-titik tertentu sungai setempat.

Bahkan di dunia Barat sekalipun, metode ibu melahirkan di air inipun tidak sama sekali baru. Melahirkan di air yang pertama tercatat di Eropa adalah pada tahun 1805 di Perancis. Seorang ibu yang mengalami proses persalinan yang sulit dan panjang dibantu dengan cara ditempatkan di bak mandi berisi air hangat. Tidak berapa lama setelah ibu tersebut masuk ke dalam air, proses persalinannya mengalami kemajuan. Ia mulai mengejan, dan lahirlah bayinya ke dunia… dalam posisi ibu dan bayi masih berada di dalam air.

Setelah itu, sekitar tahun 1970, para dokter dan bidan di Perancis tertarik dengan ide mengenai bagaimana caranya agar transisi bayi dari kandungan ke dunia berjalan sealami mungkin. Hal ini karena mereka memandang praktik persalinan modern sarat intervensi medis yang membuat ibu dan bayi trauma. Seorang dokter kandungan Perancis bernama Frederick Leboyer berpendapat bahwa cara seorang bayi dilahirkan dapat mempengaruhi bayi tersebut seumur hidupnya. Dari situlah metode melahirkan di air untuk praktik persalinan mulai digencarkan.

Hingga dua dekade kemudian, minat para ibu untuk melahirkan di air mulai berkembang di benua Eropa dan Kanada. Bahkan hingga hari ini, metode ibu melahirkan di air pun banyak dijumpai di Indonesia. Banyak rumah sakit bersalin di kota-kota besar di Indonesia yang telah menyediakan fasilitas tersebut.

Kelebihan Metode Ibu Melahirkan di Air

Teori yang mendukung praktik melahirkan di air adalah mengingat bahwa bayi ‘berenang’ di air ketuban selama sembilan bulan lamanya, sehingga melahirkannya melalui lingkungan yang mirip dengan air ketuban akan mendukung proses persalinan yang lebih lembut bagi bayi dan lebih minim trauma bagi ibu. Bagi ibu, manfaat ibu melahirkan di air adalah:

  • Air hangat yang digunakan dalam metode melahirkan di air ini membawa efek menenangkan.
  • Pada tahapan akhir persalinan, penggunaan air mampu meningkatkan energi sang ibu.
  • Efek ‘mengapung’ di dalam air mengurangi berat tubuh ibu dan mengizinkannya untuk bergerak lebih bebas serta mencari posisi yang lebih nyaman.
  • Efek ‘mengapung’ dalam air tersebut mendorong kontraksi rahim yang lebih efisien dan melancarkan peredaran darah, yang memungkinkan otot-otot rahim memperoleh lebih banyak oksigen yang dibutuhkan, mengurangi nyeri pada ibu, dan memberikan lebih banyak oksigen untuk bayi.
  • Dengan masuk ke dalam air, kecemasan ibu berkurang sehingga tekanan darahnya pun akan menurun. Dengan berkurangnya kecemasan ibu, hormon yang diproduksi tubuh ketika stres pun akan berkurang. Sebaliknya, tubuh akan memproduksi endorfin yang berguna sebagai penghalau nyeri.
  • Kecemasan ibu berkurang, yang kemudian digantikan dengan perasaan rileks. Ketika ibu merasa rileks, tubuh memproduksi oksitosin alami yang dapat membuat proses persalinan lebih cepat.
  • Air membuat perineum lebih rileks dan elastis, sehingga mengurangi angka kejadian dan keparahan robeknya jalan lahir. Perineum yang elastis juga membuat bidan tidak perlu melakukan pengguntingan jalan lahir (episiotomi).

Bagi bayi, metode ibu melahirkan di air juga membawa manfaat, di antaranya adalah:

  • Menyediakan lingkungan baru bagi bayi yang mirip dengan kondisi dalam kandungan.
  • Mengurangi stres bagi bayi akibat proses persalinan, yang dengan sendirinya meningkatkan rasa aman bagi bayi. Para dokter dan bidan mengamati bahwa bayi yang lahir di dalam air tampak lebih tenang, lebih aktif dalam melakukan kontak mata dengan sang ibu dan menyusu

Ibu Melahirkan di Air Bukannya Tanpa Resiko

Selalu ada resiko akan keputusan yang diambil, demikian pula dengan metode melahirkan ini. Berdasarkan sebuah artikel yang ditulis oleh Royal College of Obstetrician and Gynecologists, ibu yang melahirkan di air beresiko mengalami emboli, dimana air memasuki pembuluh darah yang terbuka selama proses persalinan.

Air, yang merupakan benda asing, apabila masuk ke pembuluh darah berpotensi menyumbat aliran darah ke suatu organ. Karena aliran darah dan oksigen tersumbat, organ tersebut akan mengalami gagal fungsi, bahkan dapat menyebabkan kondisi yang lebih fatal yakni kematian. Meskipun 95% para ahli percaya akan keamanan metode ini, mereka tetap memandang adanya resiko emboli tersebut. Melahirkan di air juga cenderung lebih menyulitkan tenaga kesehatan untuk memantau jumlah perdarahan yang keluar.

Selain itu, metode ibu melahirkan di air pun bukannya tidak membawa resiko apapun bagi bayi. Jika bayi berada di jalan lahir terlalu lama sehingga ia mengalami apa yang disebut gawat janin, atau jika tali pusat melilit, bayi mungkin akan langsung menghirup udara yang menyebabkan bayi tersedak air.

Apa yang Harus Anda Persiapkan Jika Ingin Mencoba Metode Ini?

Metode ibu melahirkan di air tidak sesuai untuk Anda jika Anda menderita herpes, karena herpes sangat mudah menular di air, sehingga hal ini harus Anda diskusikan dengan tenaga kesehatan yang akan menangani persalinan Anda. Selain itu, Anda tidak disarankan melahirkan di air apabila posisi janin kepala masih di atas, janin kembar, air ketuban Anda sudah tercemar mekonium, atau persalinan prematur. Demikian juga apabila Anda terdiagnosa menderita preeklampsia, Anda tidak disarankan mencoba metode ini.

Jika Anda ingin mencoba metode ini, pastikan dengan tenaga kesehatan di kota Anda apakah fasilitas semacam ini tersedia. Tenaga kesehatan biasanya akan memberitahu rumah sakit mana yang kiranya dapat memfasilitasi metode melahirkan ini. Begitu Anda mendapatkan lokasi rumah sakit yang menyediakan fasilitas melahirkan di air, rajin-rajinlah mencari review dari teman maupun kerabat mengenai pelaksanaan metode melahirkan di air di rumah sakit tersebut.

Begitu Anda sudah mantap, pada hari H pastikan suhu air tidak terlalu panas (bak permanen yang disediakan di rumah sakit biasanya didesain agar suhu air selalu hangat) dan Anda sendiri mendapat asupan cairan yang cukup sehingga tidak dehidrasi. Selamat mencoba metode ibu melahirkan di air, semoga proses persalinan Anda berjalan lancar!

Leave A Reply

Your email address will not be published.

2 + = 5