Let’s travel together.

Apa yang Terjadi ketika Kadar Eritrosit dalam Tubuh Meningkat?

0 2

Apakah yang Terjadi Ketika Kadar Eritrosit dalam Tubuh Meningkat? Eritrosit dikenal juga dengan sel darah merah, memiliki fungsi sangat penting bagi metabolisme tubuh. Kadar eritrosit dalam darah memang lebih tinggi dibandingkan komponen darah yang lain seperti sel darah putih (leukosit), maupun keping darah (trombosit).

Namun apabila jumlahnya terlalu banyak, eritrosit tinggi dapat menjadi pemicu penyakit lain serta dapat mengancam kematian penderitanya. Berikut akan disajikan penjelasan mengenai kadar eritrosit yang tinggi pada darah dan urine yang merupakan suatu pertanda penyakit dan gangguan organ. Selamat membaca!

Berapakah Kadar Eritrosit Normal dalam Tubuh dan Dimanakah Tempat Produksinya?

Sekurangnya dalam 1 mililiter darah terdapat 5 juta sel darah merah. Bentuknya datar menyerupai piring dengan cekungan di tengah sel. Sehingga dikenal juga dengan bentuk bikonveks. Eritrosit atau sel darah merah memiliki sifat sangat lentur. Diameternya dapat mengecil hingga 50% dari ukuran normalnya, sehingga mampu melewati pembulh darah terkecil dalam tubuh yakni pembuluh kapiler.

Di dalam eritrosit terdapat hemoglobin, yakni sebuah zat protein yang mengikat oksigen. Sehingga tugas eritrosit adalah membawa oksigen yang di ambil oleh paru-paru ke seluruh tubuh. Dan sebaliknya, membawa karbondioksida sebagai hasil metabolisme tubuh keluar juga melalui paru-paru.

Eritrosit memiliki usia 120 hari. Setelah usianya habis, eritrosit lama akan di pecah oleh organ hati dan limpa. Zat besi di dalam sel darah merah digunakan lagi oleh sum sum tulang untuk menciptakan sel darah merah yang baru. Proses ini terjadi di dalam rongga tulang.

Berbagai Penyebab Kadar Eritrosit Tinggi

Di bawah ini akan dibahas berbagai penyebab terjadinya eritrosit tinggi. Baik dalam darah maupun dalam urine. Berikut penjelasannya:

  • Polisitemia (Kadar Eristrosit Tinggi dalam Darah)

Polisitemia adalah kondisi meningkatnya jumlah eritrosit dari batas normalnya. Kelainan ini terjadi ketika jumlah sel darah merah yang melebihi 700.000 hingga 5.2 juta eritrosit per microliter bagi pria, dan melebihi 500.000 hingga 4.6 juta eritrosit per microliter pada wanita.

Kadar eritrosit yang tinggi, akan menyebabkan kekentalan darahpun semakin meningkat. Darah yang terlalu kental justru memperberat kerja jantung, serta oksigen tidak dapat tersalurkan dengan baik. Secara tidak langsung tekanan darah akan meningkat, dan eritrosit ini dapat menjadi sumbatan pada beberapa pembuluh darah utama seperti di otak, jantung maupun pada area lain.

Sumbatan pembuluh darah dapat menjadi penyebab terjadinya stroke, nyeri angina serta gangguan sirkulasi darah yang lain seperti Raynaud’s disease yang menyebabkan ujung jari kaki dan tangan kurang teraliri oksigen. Dapat terjadi luka, gangrene bahkan kematian sel. Harus dilakukan amputasi untuk mengatasinya.

Terdapat dua macam faktor penyebab terjadinya polisitemia. Faktor pertama adalah faktor dari dalam tubuh penderita. Seperti contohnya adalah adanya penyakit keturunan, mutasi genetis maupun terjadinya penurunan kemampuan hati atau limpa untuk memecah eritrosit atau penurunan kemampuan sum sum tulang untuk memproduksi sel darah merah secara normal setiap 120 hari.

Faktor kedua adalah faktor sekunder, atau dari penyakit lain. Seperti contohnya adalah ketika Anda memiliki riwayat gangguan pada paru-paru yang menyebabkan paru – paru tidak dapat berfungsi secara optimal untuk menyerap oksigen. Paru-paru obstruktif kronis (PPOK), bronkitis kronis dan penyakit infeksi paru-paru yang lain dapat menjadi penyebab terjadinya polisitemia.

Penduduk yang tinggal di dataran tinggi atau pegunungan juga cenderung memiliki kadar eritrosit yang tinggi. Hal ini disebabkan karena rendahnya kadar oksigen di pegunungan, sehingga tubuh berupaya mengimbangi dengan produksi sel darah merah yang lebih banyak daripada penduduk yang tinggal di dataran rendah.

Keganasan atau kanker hati dan kanker ginjal juga dapat menjadi penyebab kondisi tingginya kadar eritrosit dalam darah. Perlu pemeriksaan dengan mendetail dan lengkap untuk dapat mengetahui berbagai penyebab pasti terjadinya poisitemia atau peningkatan eritrosit melebihi batas normal dalam tubuh.

  • Hematuria (Kadar Eritrosit Tinggi dalam Urine)

Berbeda hal nya dengan kadar eritrosit tinggi di dalam urine. Sel darah merah juga dikeluarkan secara normal melalui urine dengan batas normal adalah 2.5 juta eritrosit per microliter urine. Apabila kadar eritrosit dalam urine melebihi batas normal tersebut, maka akan terjadi kondisi hematuria atau urine yang mengandung darah.

Urine yang mengandung darah menjadi pertanda terdapat luka atau sebuah kondisi penyakit pada sistem perkemihan Anda. Seperti contoh adanya batu pada saluran kemih (batu ginjal, batu ureter, dan lain lain), infeksi saluran kemih, perlukaan serta apabila terdapat tumor maupun keganasan pada saluran kemih akan terjadi peningkatan eritrosit dalam urine.

Adakah Penanganan Tepat bagi Kondisi Eritrosit Tinggi?

Kondisi eritrosit yang tinggi tentunya akan diketahui setelah dilakukannya pemeriksaan laboratorium darah dan urine. Dokter dan tenaga medis lain juga akan melakukan pemeriksaan fisik yang lain serta lebih mendetail untuk mengetahui penyebab terjadinya polisitemia maupun hematuria ini.

Penanganan pertama untuk menghindari terjadinya penggumpalan sel darah merah apabila penyebabnya dari dalam tubuh adalah dengan mengeluarkannya. Proses ini disebut juga dengan flebotomy, yakni sebuah proses pengeluaran darah secara rutin. Darah yang harus dikeluarkan adalah sekitar 250 hingga 500 ml terutama ketika sudah nampak gejala sesak nafas, pusing dan nyeri tekan pada area pinggul (akibat pembengkakan hati).

Apabila penyebabnya adalah faktor sekunder, atau terdapatnya penyakit lain seperti keganasan. Kemoterapi dapat dilaksanakan untuk menekan jumlah sel darah merah yang meningkat. Penggunaan terapi ini tidak disarankan bagi pasien wanita usia produktif serta lansia di atas 50 tahun.

Selain flebotomi pemberian aspirin atau obat pengencer darah akan dilaksanakan, untuk menghindari terjadinya berbagai sumbatan akibat peningkatan kekentalan darah.

Pada kasus hematuria, dokter dan tenaga medis akan mencari dengan teliti berbagai penyebab terjadinya perdarahan pada saluran perkemihan pasien. Apabila yang menjadi penyebab adalah adanya batu pada saluran perkemihan, maka batu ini harus dikeluarkan.

Terjadinya batu pada ginjal atau saluran perkemihan dapat disebabkan pola makan yang kurang variatif, terlalu tinggi konsumsi asupan kalsium dan kurangnya asupan air. Pengobatan dan tata laksanaka apabila terjadi batu pada saluran perkemihan adalah disesuaikan dengan ukuran dan jumlah batu. USG akan dilaksanakan untuk memastikan kondisi ini.

Pada ukuran batu yang besar operasi dapat dilaksanakan. Selain operasi terdapat tatalaksana ultrasound atau laser yang digunakan untuk memecah batu menjadi pecahan yang lebih kecil dapat dikeluarkan secara normal melalui proses berkemih. Selain itu untuk mencegah batu kembali terbentuk dalam saluran perkemihan Anda hindari asupan minuman atau suplemen kalsium, variasikan makanan dengan buah dan sayur yang sehat dan perbanyak minum air putih sekurangnya 8 hingga 10 gelas tiap harinya.

Apabila penyebab hematuria atau kencing berwarna merah dan mengandung darah adalah akibat terjadinya infeksi saluran perkemihan, maka antibiotik harus diberikan dan dikonsumsi sesuai dosis hingga habis. Kemoterapi dan radioterapi dapat dilaksanakan pada penyebab hematuria atau tingginya kadar eritrosit dalam urine akibat adanya tumor maupun keganasan.

Menjaga pola hidup sehat dan menghindari makanan instan serta berpengawet menjadi kunci penting mencegah terjadinya kadar eritrosit yang terlalu tinggi baik dalam darah maupun urine. Mutasi genetis dapat dipicu dengan banyaknya kandungan tidak sehat dalam makanan instan maupun berpengawet.

Demikian informasi mengenai kadar eritrosit tinggi dalam darah dan urine, serta penjelasan mengenai berbagai pernyebab dan penangananya. Menjaga kesehatan merupakan tanggung jawab pribadi kita, untuk menjaga amanah yang telah dititipkan Tuhan pada kita. Semoga artikel ini bermanfaat, salam sehat !

Leave A Reply

Your email address will not be published.

− 2 = 1