Let’s travel together.

Apa Itu Penyakit TBC dan Bagaimana Cara Mencegahnya?

0 2

Serba-Serbi TBC dan Cara PencegahannyaIndonesia adalah negara dengan penderita TBC terbanyak kedua di dunia. Demikian seperti yang diungkapkan oleh Menteri Kesehatan Nila Djuwita F. Moeloek dalam dialog bersama direktur rumah sakit se-Kalimantan Selatan di Rumah Sakit Umum Daerah Ulin Banjarmasin pada bulan Mei silam. Beliau mengungkapkan bahwa jumlah penderita tuberkulosis di Indonesia menempati peringkat kedua terbanyak setelah India. Tingginya jumlah penderita tuberkulosis ini perlu mendapat perhatian seluruh pihak yang terkait. Penyakit ini sangat mudah menular, terutama di daerah hunian yang memiliki tingkat kepadatan penduduk yang tinggi.

Apabila ada pasien TBC masuk rumah sakit, kemungkinan seluruh anggota keluarga dalam satu rumah akan terkena penyakit yang sama. Penderita tuberkulosis juga akan mengalami kesulitan jika hendak bekerja atau menuntut ilmu di luar negeri. Banyak buruh migran Indonesia yang berada di luar negeri terpaksa dipulangkan karena mengidap tuberkulosis. Demikian juga dengan mahasiswa yang hendak melanjutkan sekolah di luar negeri, kepergian mereka terpaksa ditunda jika hasil medical check-up mereka menunjukkan bahwa mereka positif menderita penyakit ini.

Mengenal Kembali Penyakit TBC

Saat ini, tuberkulosis termasuk dalam 10 besar penyakit yang paling banyak menyebabkan kematian di dunia. Masyarakat sebetulnya sudah sering mendengar penyakit ini, namun masih banyak juga yang belum mengetahui secara lebih mendalam, terkait dengan cara penularan dan komplikasi apabila penyakit ini tidak segera ditangani. Tuberkulosis itu sendiri sering disingkat menjadi TBC atau TB saja, yaitu penyakit menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Umumnya, penyakit ini menyerang paru-paru, namun tidak menutup kemungkinan bagian tubuh yang lain juga dapat terserang.

Jika kita sehat dan memiliki sistem pertahanan tubuh yang baik, apabila kita terpapar bakteri Mycobacterium tuberculosis maka sistem pertahanan alami tubuh kita akan melawan dan membunuh bakteri tersebut, sehingga kita tidak terjangkit penyakit tuberkulosis. Inilah pentingnya menjaga daya tahan tubuh agar tetap sehat.

Namun adakalanya sistem pertahanan tubuh kita tidak berfungsi optimal dan gagal membunuh bakteri penyebab tuberkulosis tersebut (ada pula kelompok populasi yang rentan karena memiliki sistem imun yang lebih lemah; yakni orang dengan HIV/AIDS, balita, lansia, dan mereka yang tengah menjalani kemo), sehingga bakteri ini berhasil menyebar dalam tubuh kita. Bisa jadi kita tidak menampakkan tanda dan gejala apapun, namun bakteri ini akan tetap berada dalam tubuh kita. Kondisi inilah yang disebut TBC laten. Orang yang berada dalam kondisi ini tidak menularkan tuberkulosis ke orang lain.

Apabila sistem pertahanan tubuh kita sekali lagi gagal mengatasi infeksi, bakteri Mycobacterium tuberculosis yang sudah ‘tinggal’ dalam tubuh akan bergerak menuju paru-paru atau bagian tubuh yang lain dan akan menimbulkan tanda dan gejala dalam rentang waktu beberapa minggu atau beberapa bulan. Tanda dan gejala tuberkulosis yang tipikal adalah batuk yang bertahan hingga lebih dari 3 minggu (dan biasanya disertai dahak), penurunan berat badan, banyak berkeringat di malam hari, demam, lelah, hilang nafsu makan, dan pembengkakan di sekitar leher. Kondisi inilah yang disebut TBC aktif.

Seberapa banyak kasus tuberkulosis laten yang berkembang menjadi aktif? Jawabannya adalah, 10% dari kasus infeksi tuberkulosis laten akan berkembang menjadi aktif, yang apabila tidak ditangani akan menyebabkan kematian dari setengah penderita yang terinfeksi. Penderita tuberkulosis aktif dapat menularkan penyakitnya ke orang lain melalui droplet ketika yang bersangkutan batuk atau bersin.

Seberapa Serius Penyakit TBC Ini?

Tuberkulosis dapat menyebabkan beberapa komplikasi dan dan bahkan kematian. Seperti yang telah disampaikan di poin sebelumnya, bakteri penyebab tuberkulosis dapat tinggal di aliran darah dan menyerang organ tubuh lainnya. Ini terjadi terutama pada kasus tuberkulosis aktif yang tidak mendapat penanganan yang baik. Apabila menyerang tulang dan sendi, maka seseorang akan merasakan nyeri dan kekakuan pada tulang punggung. Sendi yang terserang biasanya sendi-sendi panggul dan lutut.

Apabila bakteri penyebab TBC menyerang selaput otak, membran selaput otak dapat mengalami pembengkakan yang kita kenal akrab dengan sebutan meningitis. Penderitanya biasanya merasakan nyeri kepala yang menetap maupun hilang timbul yang berlangsung selama beberapa minggu. Hati dan ginjal pun tidak luput dari serangan penyakit ini. Hati dan ginjal bertugas menyaring sisa-sisa metabolisme dari aliran darah, sehingga apabila terinfeksi tuberkulosis kedua organ ini tidak akan dapat menjalankan tugasnya dengan baik.

Bahkan, tuberkulosis pun dapat menyerang jantung. Jaringan yang menyelimuti jantung akan mengalami pembengkakan dan menampung banyak cairan. Sebagai konsekuensinya, tugas jantung memompa darah ke seluruh tubuh dapat terganggu. Kondisi ini dinamakan tamponade jantung, yang dapat berakibat fatal. Di seluruh dunia, hampir 2.5 milyar orang (atau sepertiga dari jumlah seluruh populasi dunia) terinfeksi TBC, dengan 9.6 juta di antaranya berada dalam kondisi tuberkulosis aktif.

Apa Upaya Pencegahan yang Dapat Kita Lakukan?

Pemberian vaksin BCG pada bayi adalah langkah awal pencegahan penyakit tuberkulosis. Di Indonesia, vaksin BCG umumnya diberikan sebelum bayi berusia 3 bulan. Vaksin ini terbuat dari bakteri Mycobacterium bovine (yang paling mirip dengan bakteri penyebab tuberkulosis) yang telah dilemahkan, sehingga tidak akan menyebabkan penerima vaksin menjadi sakit. Dengan pemberian vaksin ini, sistem imun akan teraktivasi sehingga dapat menghasilkan sel-sel yang dapat melindungi sang penerima vaksin dari bakteri tuberkulosis.

Seseorang dengan TBC aktif harus menjalani pengobatan dengan mengkonsumsi beberapa jenis antibiotik dalam jangka waktu tertentu, sesuai yang diresepkan oleh dokter. Ia harus menjalani pengobatan sampai selesai dan tidak boleh terputus. Obat anti tuberkulosis yang tidak diminum secara teratur dapat menyebabkan resistensi bakteri tuberkulosis terhadap obat, sehingga akan makin sulit untuk mengobatinya di kemudian hari. Selain pengobatan, orang dengan tuberkulosis aktif pun dapat melakukan upaya pencegahan agar tidak menularkan penyakitnya ke orang lain.

Pertama, ia harus tinggal di rumah selama dua minggu pertama proses pengobatan. Hindari pergi bekerja, bersekolah, atau tidur satu ruangan dengan orang lain dalam jangka waktu tersebut. Kedua, tutup mulut dan hidung dengan tisu ketika batuk atau bersin, kemudian segera buang tisu tersebut ke tempat sampah yang tertutup lalu cuci tangan dengan sabun dan air mengalir. Jika tidak ada tisu, gunakan bagian dalam lengan atas untuk menutup mulut dan hidung Anda ketika batuk atau bersin.

Ketiga, kenakan masker, terutama pada dua bulan pertama masa pengobatan dan apabila berinteraksi dengan kelompok populasi yang rentan. Terakhir, atur lingkungan rumah agar memiliki ventilasi yang baik. Bakteri penyebab TBC akan dengan mudah menyebar pada ruangan kecil yang tertutup, dimana udara tidak bisa bergerak dengan bebas. Apabila suhu udara di luar tidak terlalu dingin, buka pintu dan jendela dan gunakan kipas angin untuk mendorong udara dari dalam keluar.

Mungkin dua puluh tahun yang lalu ketika penyebaran informasi tidak semasif sekarang, penderita tuberkulosis cenderung dikucilkan oleh orang-orang di sekitarnya karena ketidaktahuan akan cara penularan dan pengobatannya. Namun sekarang, dengan menerapkan langkah-langkah deteksi, penanganan dan pencegahan yang tepat, penularan TBC dapat dicegah serta resiko komplikasinya dapat diminimalkan .

Leave A Reply

Your email address will not be published.

− 2 = 4